Banjir adalah fenomena alam yang seringkali membawa dampak destruktif, merenggut harta benda, bahkan nyawa. Di Indonesia, banjir seolah menjadi langganan tahunan di berbagai daerah, terutama saat musim penghujan tiba. Banyak orang cenderung menyalahkan curah hujan yang tinggi sebagai satu-satunya penyebab utama. Namun, pandangan ini seringkali terlalu menyederhanakan masalah.

Realitasnya, banjir adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor alam dan aktivitas manusia. Ada banyak penyebab mendasar yang sering terabaikan, luput dari perhatian publik maupun kebijakan. Memahami akar masalah ini krusial untuk merumuskan solusi jangka panjang yang efektif, bukan sekadar penanganan reaktif. Artikel ini akan mengulas 10 penyebab banjir yang sering terabaikan, menggali lebih dalam faktor-faktor yang secara signifikan berkontribusi pada kerentanan suatu wilayah terhadap bencana banjir.

1. Permukaan Kedap Air (Impermeable Surfaces)

Di tengah pesatnya urbanisasi, kota-kota modern dipenuhi oleh bangunan beton, jalan aspal, dan area parkir yang luas. Semua ini menciptakan apa yang disebut sebagai permukaan kedap air. Secara alami, tanah memiliki kemampuan untuk menyerap air hujan dan mengalirkannya secara perlahan ke dalam akuifer atau sungai. Namun, ketika sebagian besar permukaan tertutup material kedap air, air hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah.

Akibatnya, volume air permukaan meningkat drastis dan mengalir lebih cepat ke sistem drainase yang seringkali tidak dirancang untuk menampung debit sebesar itu. Banjir pun tak terhindarkan, terutama di area dataran rendah. Fenomena ini sering terabaikan karena dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kemajuan kota, padahal ia adalah salah satu pemicu utama banjir bandang di perkotaan.

2. Desain Sistem Drainase yang Usang atau Tidak Memadai

Banyak kota di Indonesia memiliki sistem drainase yang dibangun puluhan tahun lalu, dirancang untuk kondisi demografi dan curah hujan yang jauh berbeda dari saat ini. Seiring waktu, pertumbuhan penduduk dan perubahan iklim menyebabkan volume air hujan meningkat secara signifikan. Sistem drainase yang ada seringkali tidak lagi memadai dalam kapasitas maupun cakupannya.

Selain itu, desain drainase yang buruk, seperti kemiringan yang tidak tepat, penampang saluran yang terlalu kecil, atau banyaknya belokan tajam, dapat menghambat aliran air. Kurangnya perawatan rutin juga memperparah kondisi. Masalah ini sering diabaikan karena perbaikan sistem drainase menuntut investasi besar, perencanaan yang matang, dan seringkali mengganggu aktivitas publik dalam jangka pendek, sehingga enggan untuk dilakukan.

3. Pembangunan di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Dataran Banjir

Manusia secara historis cenderung membangun pemukiman dekat dengan sumber air, termasuk sungai. Namun, pembangunan yang tidak terkontrol dan masif di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dan dataran banjir alami adalah resep bencana. Dataran banjir adalah area yang secara alami akan tergenang saat sungai meluap.

Membangun di area ini berarti mengurangi kapasitas alami sungai untuk menampung air luapan. Bangunan-bangunan tersebut juga menghalangi jalur aliran air, memaksa air meluap ke area lain atau memperparah genangan. Seringkali, pertimbangan ekonomi dan kebutuhan lahan mendominasi, mengabaikan risiko lingkungan jangka panjang yang jauh lebih besar.

4. Sedimentasi Sungai dan Saluran Air

Erosi tanah dari daerah hulu akibat deforestasi atau aktivitas pertanian yang tidak berkelanjutan membawa material lumpur dan pasir ke sungai. Material ini kemudian mengendap di dasar sungai dan saluran air, sebuah proses yang disebut sedimentasi. Akumulasi sedimen ini secara bertahap mengurangi kedalaman dan kapasitas penampang sungai.

Ketika curah hujan tinggi, sungai yang dangkal dan sempit tidak mampu menampung volume air, sehingga air dengan mudah meluap. Masalah sedimentasi sering terabaikan karena prosesnya berlangsung perlahan dan tidak terlihat langsung di perkotaan, padahal akarnya ada di praktik penggunaan lahan yang salah di daerah hulu.

5. Hilangnya Lahan Basah dan Area Retensi Alami

Lahan basah seperti rawa, danau, dan hutan bakau, serta area hijau terbuka lainnya, berfungsi sebagai penyerap air alami dan area retensi. Mereka mampu menampung kelebihan air hujan, memperlambat alirannya, dan membiarkannya meresap ke dalam tanah secara bertahap. Namun, seiring dengan pembangunan, banyak lahan basah ini yang dikeringkan dan diubah menjadi pemukiman, kawasan industri, atau lahan pertanian.

Penghancuran ekosistem alami ini menghilangkan “penyangga” air yang sangat penting, membuat suatu wilayah lebih rentan terhadap banjir. Pengabaian terhadap fungsi ekologis lahan basah sering terjadi karena nilai ekonomi langsung dari pengembangannya dianggap lebih tinggi daripada manfaat ekologis jangka panjangnya.

6. Penurunan Permukaan Tanah (Land Subsidence)

Terutama di kota-kota pesisir dan dataran aluvial, penurunan permukaan tanah (land subsidence) adalah masalah serius yang sering kali luput dari perhatian publik. Penurunan ini dapat disebabkan oleh konsolidasi alami sedimen aluvial, namun paling sering diperparah oleh ekstraksi air tanah berlebihan dan beban bangunan yang masif di atasnya.

Ketika permukaan tanah terus menurun, ketinggian relatif terhadap permukaan laut atau sungai pun berkurang, menjadikan daerah tersebut semakin rentan terhadap banjir rob (pasang laut) maupun banjir akibat hujan lokal. Proses ini berlangsung perlahan, tidak terlihat kasat mata setiap hari, sehingga kesadarannya rendah sampai dampak banjirnya semakin parah.

7. Manajemen Sampah yang Buruk

Sampah, terutama sampah plastik, adalah musuh utama sistem drainase perkotaan. Manajemen sampah yang buruk, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai, selokan, atau parit, menyebabkan saluran-saluran air ini tersumbat. Tumpukan sampah menghalangi aliran air, mengurangi kapasitas saluran, dan akhirnya menyebabkan luapan air ke permukiman.

Meskipun terlihat sepele, kontribusi sampah terhadap banjir sangat signifikan di banyak kota. Ini adalah masalah perilaku dan kesadaran masyarakat yang seringkali diabaikan dalam konteks solusi banjir, padahal perbaikannya dapat dimulai dari skala rumah tangga.

8. Kurangnya Penegakan Tata Ruang

Pemerintah daerah biasanya memiliki rencana tata ruang wilayah yang mengatur zonasi penggunaan lahan (pemukiman, industri, pertanian, ruang terbuka hijau, dll.) termasuk area yang dilarang dibangun karena rawan bencana. Namun, kurangnya penegakan aturan tata ruang ini seringkali menjadi masalah.

Pembangunan liar di zona hijau, dataran banjir, atau bantaran sungai, serta alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukan, sering terjadi karena lemahnya pengawasan atau adanya praktik korupsi. Akibatnya, daerah-daerah yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air atau penyangga bencana malah dipadati bangunan, meningkatkan risiko banjir secara drastis.

9. Ekstraksi Air Tanah Berlebihan

Di banyak perkotaan, kebutuhan air bersih yang terus meningkat dipenuhi dengan ekstraksi air tanah secara berlebihan, baik oleh industri, komersial, maupun rumah tangga. Ketika air tanah diambil lebih cepat daripada proses pengisian alaminya, tekanan di bawah permukaan tanah berkurang, menyebabkan lapisan tanah di atasnya mengendap atau ambles.

Seperti yang disinggung pada poin penurunan permukaan tanah, proses ini mempercepat penurunan elevasi permukaan tanah, membuat daerah tersebut semakin rentan terhadap genangan air dan banjir. Meskipun dampaknya tidak langsung terlihat, ini adalah salah satu faktor geologis yang sering terabaikan namun memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius.

10. Perubahan Pola Penggunaan Lahan Pertanian

Di daerah hulu atau pinggiran kota, perubahan pola penggunaan lahan pertanian juga dapat berkontribusi pada banjir. Praktik pertanian intensif yang mengandalkan monokultur, penggunaan pupuk kimia berlebihan, dan penggundulan vegetasi penutup tanah, dapat merusak struktur tanah.

Tanah yang sehat dan kaya bahan organik memiliki kemampuan resap air yang baik. Namun, tanah yang rusak akan menjadi padat, kehilangan daya serapnya, dan lebih mudah tererosi. Akibatnya, air hujan akan langsung mengalir di permukaan, membawa sedimen, dan meningkatkan debit air sungai secara tiba-tiba, yang pada gilirannya memperparah risiko banjir di daerah hilir.

Kesimpulan

Banjir bukanlah takdir yang hanya disebabkan oleh hujan semata. Ia adalah cerminan dari kompleksitas interaksi antara manusia dan lingkungan. Sepuluh penyebab banjir yang sering terabaikan di atas menunjukkan bahwa masalah ini berakar pada perencanaan yang buruk, perilaku yang tidak bertanggung jawab, kurangnya penegakan hukum, serta abainya kita terhadap keseimbangan ekosistem.

Untuk mengatasi masalah banjir secara fundamental, diperlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi. Ini mencakup perencanaan tata ruang yang bijaksana, investasi pada infrastruktur drainase yang adaptif, pengelolaan sampah yang efektif, perlindungan dan restorasi ekosistem alami seperti hutan dan lahan basah, serta peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Mengabaikan salah satu faktor ini berarti terus membuka pintu bagi bencana banjir untuk kembali terulang. Hanya dengan memahami dan menangani seluruh spektrum penyebab, kita dapat membangun komunitas yang lebih tangguh dan berkelanjutan di masa depan.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *